Hari minggu, tepatnya 1 minggu yang lalu, aku pergi ke mal daerah Pluit yaitu Pluit Village. Disana aku menuju ke toko buku yang sedang ada diskonnya. Aku pilih buku berjudul "Say: No Thanks". Kenapa aku memilih buku itu? Menurutku mungkin buku ini menarik dan ada diskon. Dari sinopsisnya buku ini memiliki nasihat-nasihat yang berguna untuk kita.
Sesampainya di rumah, aku membaca bukunya. Aku tertarik terhadap covernya, tetapi ketika aku membacanya, ada kekurangan dan kelebihannya. Kekurangannya yaitu gaya bahasanya yang jayus alias dilucu-lucu kan dan dilebih-lebihkan. Kelebihannya yaitu banyak nasihat-nasihat yang sangat berguna untuk kita. Mungkin itu mengapa buku ini menjadi diskon.
Semoga testimoni aku bermanfaat untuk kita semua.
Rabu, 19 April 2017
Selasa, 18 April 2017
Kartun Ngampus Semester Terakhir & Nenek Hebat Dari Saga
Sekitar 3 minggu yang lalu aku membeli sebuah novel dan itu pun tidak sengaja karena sudah lama aku tidak membaca. Setelah aku dari daerah Cempaka Putih, aku menuju matraman. Toko buku "G" Matraman memang termasuk hampir lengkap. Mulai dari buku anak-anak hingga dewasa pun ada.
Aku segera ke bagian novel best seller. Disana banyak novel best seller dan baru juga Aku jadi bingung pilih yang mana. Ada satu novel yang menurutku ini menarik. Aku putuskan untuk mengambil dan membaca sinopsis novel "Nenek Hebat Dari Saga". Ya, aku sepertinya tertarik untuk membelinya. Aku menuju kasir dan membayarnya.
Setelah sampai di rumah, aku langsung membacanya dan dalam 4 hari aku dapat membacanya dengan cepat. Novel ini membuatku tertarik. Kenapa? Karena banyak pelajaran yang dapat kita pelajari, suka, duka, dan takjub terhadap kisahnya. Roda terus berputar ternyata. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, selama kamu masih punya tenaga dan keinginan.
1 Minggu yang lalu aku dan suamiku pergi ke Pluit Village untuk membeli game board. Disana terdapat permainan yang asli alias original. Suamiku membeli 2 game dan aku seperti biasa membeli buku. Aku mengajaknya ke toko buku "G". Bagiku toko buku disana tidak selengkap di Matraman. Tidak ada rak buku bertuliskan best seller, yang ada dibagian depan hanya buku-buku yang baru. Ok lah aku masih bisa terima karena disana pengunjungnya termasuk sedikit
Setelah aku berkeliling, aku memutuskan ke bagian buku komedi dan aku ambil buku berjudul "Kartun Ngampus Semester Akhir". Aku baca bagian belakang bukunya dan bagiku lucu. Aku menuju kasir dan membayarnya.
Sesampainya dirumah, aku hanya membaca buku ini selama 15 menit. Buku ini bagiku sangat menarik, kenapa? Bahasanya mudah dipahami, lucu, terdapat gambar, ada sedihnya dan terdapat inspirasi bagi yang membacanya. Buku ini menceritakan tentang seorang mahasiswa yang berjuang di semster akhir. Semester akhir biasanya disibukkan dengan skripsi. Skripsi akan berhadapan dengan dosen pembimbing yang bermacam-macam bentuknya. Hingga akhirnya mahasiswa ini selesai dari skripsinya.
Mungkin hanya itu yang bisa saya bagikan tentang 2 buku yang saya telah beli. Jangan lupa, sering-seringlah kita membaca buku.
Minggu, 05 Februari 2017
Senin, 31 Oktober 2016
Sindroma Nefrotik
I. PENDAHULUAN
Sindrom nefrotik (SN)
merupakan salah satu manifestasi klinik glomerulonefritis yang ditandai dengan
proteinuria masif (≥ 3 – 3,5 g/hari atau rasio protein kreatinin pada urin
sewaktu > 300-350 mg/mmol), hipoalbuminemia (<25 g="" hiperkolesterolemia="" kolesterol="" l="" total=""> 10 mmol/L), dan manifestasi klinis
edema periferal. Pada proses awal atau SN ringan untuk menegakkan diagnosis
tidak semua gejala tersebut harus ditemukan. 25>
SN dapat terjadi pada
semua usia, dengan perbandingan pria dan wanita 1:1 pada orang dewasa. SN
terbagi menjadi SN primer yang tidak diketahui kausanya dan SN sekunder yang
dapat disebabkan oleh infeksi, penyakit sistemik, metabolik, obat-obatan, dan
lain-lain.
Proteinuria masif
merupakan tanda khas SN, tetapi pada SN yang berat yang disertai kadar albumin
serum rendah ekskresi protein dalam urin juga berkurang. Proteinuria juga
berkontribusi terhadap berbagai komplikasi yang terjadi pada
SN.Hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan lipiduria, gangguan keseimbangan
nitrogen, hiperkoagulabilitas, gangguan metabolisme kalsium dan tulang, serta
hormon tiroid sering dijumpai pada SN.Umumnya pada SN fungsi ginjal normal
kecuali pada sebagian kasus yang berkembang menjadi penyakit ginjal tahap
akhir. Pada beberapa episode SN dapat sembuh sendiri dan menunjukkan respon
yang baik terhadap terapi steroid, tetapi sebagian lagi dapat berkembang
menjadi kronik.
II. ETIOLOGI
Sindrom nefrotik dapat
disebabkan oleh glomerulonefritis primer dan sekunder akibat infeksi,
keganasan, penyakit jaringan penghubung (connective tissue disease), obat atau
toksin, dan akibat penyakit sistemik.
Klasifikasi dan
penyebab sindrom nefrotik didasarkan pada penyebab primer ( gangguan glomerular
karena umur), dan sekunder (penyebab sindrome nefrotik).
a. Penyebab
Primer
Umumnya tidak diketahui
kausnya dan terdiri atas sindrome nefrotik idiopatik (SNI) atau yang sering
disebut juga SN primer yang bila berdasarkan gambaran dari histopatologinya,
dapat terbagi menjadi ;
1. Sindroma
nefrotik kelainan minimal
2. Nefropati
membranosa
3. Glomerulonephritis
proliferative membranosa
4. Glomerulonephritis
stadium lanjut
b. Penyebab Sekunder
a. Infeksi
: malaria, hepatitis B dan C, GNA pasc infeksi, HIV, sifilis, TB, lepra,
skistosoma
b. Keganasan
: leukemia, Hodgkin’s disease, adenokarsinoma :paru, payudara, colon, myeloma
multiple, karsinoma ginjal
c. Jaringan
penghubung : SLE, artritis rheumatoid, MCTD (mixed connective tissue disease)
d. Metabolik
: Diabetes militus, amylodosis
e. Efek
obat dan toksin : OAINS, preparat emas, penisilinami, probenesid, kaptopril,
heroin
f. Berdasarkan
respon steroid, dibedakan respon terhadap steroid (sindrom nefrotik yang
sensitive terhadap steroid (SNSS) yang lazimnya berupa kelainan minimal, tidak
perlu biopsy), dan resisten steroid atau SNRS yang lazimnya bukan kelainan
minimal dan memerlukan biopsy.
III. EPIDEMIOLOGI
Insidens dapat mengenai
semua umur tetapi sebagian besar (74%) dijumpai pada usia 2-7 tahun. Rasio
laki-laki : perempuan= 2:1, sedangkan pada masa remaja dan dewasa rasio ini
berkisar 1:1. Biasanya 1 dari 4 penderita sindrom nefrotik adalah penderita
dengan usia>60 tahun. Namun secara tepatnya insiden dan prevalensi sindrom
nefrotik pada lansi tidak diketahui karena sering terjadi salah diagnosa
IV. PATOFISIOLOGI
a. Proteinuria
Proteinuria disebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler terhadap protein akibat kerusakan glomerulus
( kebocoran glomerulus) yang ditentukan oleh besarnya molekul dan muatan
listrik, dan hanya sebagian kecil berasal dari sekresi tubulus (proteinuria tubular).
Proteinuria sebagian berasal dari kebocoran glomerulus (proteinuria glomerular)
dahn hanya sebagaian kecil berasal dari sekresi tubulus (proteinuria tubular).
Perubahan integritas membrane basalis glomerulus menyebabkan peingkatan
permeabilitas glomerulus terhadap perotein plasma dan protein utama yang
dieksresikan dalam urin adalah albumin
b. Hipoalbuminemia
Hipoalbumin disebabka
oleh hilangnya albumin melalui urin dan peningkatan katabolisme albumin di
ginjal. Sintesis protein di hati biasanya meningkat ( namun tidak memadai untuk
mengganti kehilagan albumin dalam urin), tetapi mungkin normal menurun
Peningkatan
permeabilitas glomerulus menyebabkan albuminuria dan hipoalbumineia. Sebagai
akibatnya hipoalbuminemia menurunkan tekanan onkotik plasma koloid, meyebabkan
peningkatan filtrasi transkapiler cairan keluar tubuh dan menigkatkan edema.
c. Hiperlipidemia
Kolesterol serum, VLDL
(very low density lipoprotein), LDL (low density lipoprotein), trigliserida
meningkat sedangkan HDL (high density lipoprotein) dapat meningkat, normal atau
meningkat.Hal ini disebabkan sintesis hipotprotein lipid disintesis oleh
penurunan katabolisme di perifer.Peningkatan albumin serum dan penurunan
tekanan onkotik.
d. Hiperkoagulabilitas
Keadaan ini disebabkan
oleh hilangnya antitrombin (AT) III, protein S, C, dan plasminogen activating
factor dalam urin dan meningkatnya factor V, VII, VIII, X, trombosit,
fibrinogen, peningkatan agregasi trombosit, perubahan fungsi sel endotel serta
menurunnya factor zymogen.
V. TANDA
DAN GEJALA
Gejala pertama yang
muncul meliputi anorexia,rasa lemah, urin berbusa (disebabkan oleh konsentrasi
urin yang tinggi). Retensi cairan menyebabkan sesak nafas (efusi pleura),
oligouri, arthralgia, ortostatik hipotensi, dan nyeri abdomen (ascites).
Untuk tanda dan gejala
yang lain timbul akibat komplikasi dari sindromnefrotik.
VI. DIAGNOSA
Diagnose SN dibuat
berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium berupa proteinuria
massif >3,5 g/1,73 m2 luas permukaan tubuh/hari), hipoalbuminemia <3 akibat="" biopsi="" dan="" dapat="" diagnose="" diperlukan="" dl="" edema="" g="" ginjal.="" ginjal="" hiperkoagulabilitas.="" hiperlipideia="" histopatologi="" jenis="" kelainan="" lipiduria="" menegakkan="" menentukan="" o:p="" pada="" pemeriksaan="" primer="" prognosis="" respon="" seperti="" sn="" tambahan="" terapi="" terhadap="" terjadi="" thrombosis="" untuk="" vena="" venerologi="" yang="">3>
VII. PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Diagnosis sindrom
nefrotik dapat ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan penunjang berikut:
· Urinalisis
Urinalisis adalah tes
awal diagnosis sindromk nefrotik.Proteinuria berkisar 3+ atau 4+ pada pembacaan
dipstik, atau melalui tes semikuantitatif dengan asam sulfosalisilat.3+
menandakan kandungan protein urin sebesar 300 mg/dL atau lebih, yang artinya
3g/dL atau lebih yang masuk dalam nephrotic range.
· Pemeriksaan
sedimen urin
Pemeriksaan sedimen
akan memberikan gambaran oval fat bodies: epitel sel yang mengandung
butir-butir lemak, kadang-kadang dijumpai eritrosit, leukosit, torak hialin dan
torak eritrosit.
· Pengukuran
protein urin
Pengukuran protein urin
dilakukan melalui timed collection atau single spot collection.
Timed collection dilakukan melalui pengumpulan urin 24 jam, mulai dari jam 7
pagi hingga waktu yang sama keesokan harinya. Pada individu sehat, total
protein urin ≤ 150 mg. Adanya proteinuria masif merupakan kriteria diagnosis.
Single spot collection
lebih mudah dilakukan. Saat rasio protein urin dan kreatinin > 2g/g, ini
mengarahkan pada kadar protein urin per hari sebanyak ≥ 3g.
· Albumin
serum
-
kualitatif : ++ sampai ++++
- kuantitatif :> 50
mg/kgBB/hari (diperiksa dengan memakai reagen ESBACH)
· Pemeriksaan
serologis untuk infeksi dan kelainan imunologis
· USG
renal
Terdapat tanda-tanda
glomerulonefritis kronik.
· Biopsi
ginjal
Biopsi ginjal
diindikasikan pada anak dengan SN congenital, onset usia> 8 tahun, resisten
steroid, dependen steroid atau frequent relaps, serta terdapat manifestasi
nefritik signifikan.Pada SN dewasa yang tidak diketahui asalnya, biopsy mungkin
diperlukan untuk diagnosis.Penegakan diagnosis patologi penting dilakukan
karena masing-masing tipe memiliki pengobatan dan prognosis yang berbeda.
Penting untuk membedakan minimal-change disease pada dewasa dengan
glomerulosklerosisfokal, karena minimal-change disease memiliki respon yang
lebih baik terhadap steroid.
· Darah:
Pada pemeriksaan kimia
darah dijumpai:2
- Protein total menurun
(N: 6,2-8,1 gm/100ml)
- Albumin menurun
(N:4-5,8 gm/100ml)
- α1 globulin normal
(N: 0,1-0,3 gm/100ml)
- α2 globulin meninggi
(N: 0,4-1 gm/100ml)
- β globulin normal (N:
0,5-0,9 gm/100ml)
- γ globulin normal (N:
0,3-1 gm/100ml)
- rasio
albumin/globulin <1 o:p="">1>
- komplemen C3
normal/rendah (N: 80-120 mg/100ml)
- ureum, kreatinin dan
klirens kreatinin normal.
VIII. PENATALAKSANAAN
Tata laksana sindrom
nefrotik dibedakan atas pengobatan dengan imunosupresif dan atau
imunomodulator, dan pengobatan suportif atau simtomatik. Penatalaksanaan ini
meliputi terapi spesifik untuk kelainan dasar ginjal atau penyakit penyebab
(pada SN sekunder), mengurangi atau menghilangkan proteinuria, memperbaiki
hipoalbuminemia, serta mencegah dan mengatasi penyulit.
Terapi Kortikosteroid
Nefropati lesi minimal
dan nefropati membranosa adalah dua kelainan yang memberikan respon terapi yang
baik terhadap steroid.Pengobatan dengan kortikosteroid dibedakan antara
pengobatan inisial dan pengobatan relaps.
Regimen penggunaan
kortikosteroid pada SN bermacam-macam, di antaranya pada orang dewasa adalah
prednison/prednisolon 1-1,5 mg/kg berat badan/hari selama 4 – 8minggu diikuti 1
mg/kg berat badan selang 1 hari selama 4-12 minggu, tapering di 4 bulan
berikutnya.Sampai 90% pasien akan remisi bila terapi diteruskan sampai 20-24
minggunamun 50% pasien akan mengalami kekambuhan setelah kortikosteroid
dihentikan.
Respon klinis terhadap
kortikosteroid dapat dibagi menjadi remisi lengkap, remisi parsial dan
resisten.Dikatakan remisi lengkap jika proteinuria minimal (< 200 mg/24
jam), albumin serum >3 g/dl, kolesterol serum < 300 mg/dl, diuresis
lancar dan edema hilang. Remisi parsial jika proteinuria<3 albumin="" g="" hari="" serum="">2,5 g/dl, kolesterol serum <350 4="" atau="" bulan="" dan="" dengan="" dikatakan="" diuresis="" dl="" edema.="" jika="" klinis="" kortikosteroid.="" kurang="" laboratoris="" lancar="" masih="" memperlihatkan="" mg="" o:p="" pengobatan="" perbaikan="" perubahan="" resisten="" setelah="" tidak="">350>3>
Kelompok SNSS dalam
perjalanan penyakit dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu SN non-relaps (30%),
SN relaps jarang (10-20%), SN relaps sering dan SN dependen steroid (40-50%).
Sindrom nefrotik non
relaps ialah penderita yang tidak pernah mengalami relaps setelah mengalami
episode pertama penyakit ini. Sindrom nefrotik relaps jarang ialah anak yang
mengalami relaps kurang dari 2 kali dalam periode 6 bulan atau kurang dari 4
kali dalam periode 12 bulan setelah pengobatan inisial. Sindrom nefrotik relaps
sering ialah penderita yang mengalami relaps >2 kali dalam periode 6 bulan
pertama setelah respons awal atau > 4 kali dalam periode 12 bulan. Sindrom
nefrotik dependen steroid bila dua relaps terjadi berturut-turut pada saat
dosis steroid diturunkan atau dalam waktu 14 hari setelah pengobatan
dihentikan.
Pengobatan SN relaps
sering atau dependen steroid dapat diberikan dengan steroid jangka panjang,
yaitu setelah remisi dengan prednison dosis penuh dilanjutkan dengan steroid
alternating dengan dosis yang diturunkan bertahap sampai dosis terkecil yang
tidak menimbulkan relaps yaitu antara 0,1-0,5 mg/kg secara alternating. Dosis
ini disebut sebagai dosis treshold, diberikan minimal selama 3-6 bulan,
kemudian dicoba untuk dihentikan.
Pengobatan lain adalah
menggunakan terapi nonsteroid yaitu:Siklofosfamid, Klorambusil, Siklosporin A,
Levamisol, obat imunosupresif lain, dan ACE inhibitor.Obat-obat ini utamanya
digunakan untuk pasien-pasien yang non-responsif terhadap steroid.
Terapi suportif/simtomatik
Proteinuria
ACE inhibitor
diindikasikan untuk menurunkan tekanan darah sistemik dan glomerular serta
proteinuria. Obat ini mungkin memicu hiperkalemia pada pasien dengan
insufisiensi ginjal moderat sampai berat.Restriksi protein tidak lagi
direkomendasikan karena tidak memberikan progres yang baik.
Edema
Diuretik hanya
diberikan pada edema yang nyata, dan tidak dapat diberikan SN yang disertai
dengan diare, muntah atau hipovolemia, karena pemberian diuretik dapat
memperburuk gejala tersebut.Pada edema sedang atau edema persisten, dapat
diberikan furosemid dengan dosis 1-3 mg/kg per hari.Pemberian spironolakton dapat
ditambahkan bila pemberian furosemid telah lebih dari 1 minggu lamanya, dengan
dosis 1-2 mg/kg per hari.Bila edema menetap dengan pemberian diuretik, dapat
diberikan kombinasi diuretik dengan infus albumin.Pemberian infus albumin
diikuti dengan pemberian furosemid 1-2 mg/kg intravena.Albumin biasanya
diberikan selang sehari untuk menjamin pergeseran cairan ke dalam vaskuler dan
untuk mencegah kelebihan cairan (overload).Penderita yang mendapat infus
albumin harus dimonitor terhadap gangguan napas dan gagal jantung.
Dietetik
Jenis diet yang
direkomendasikan ialah diet seimbang dengan protein dan kalori yang adekuat.
Kebutuhan protein anak ialah 1,5 – 2 g/kg, namun anak-anak dengan proteinuria
persisten yang seringkali mudah mengalami malnutrisi diberikan protein 2 – 2,25
g/kg per hari. Maksimum 30% kalori berasal dari lemak.Karbohidrat diberikan
dalam bentuk kompleks seperti zat tepung dan maltodekstrin.Restriksi garam
tidak perlu dilakukan pada SNSS, namun perlu dilakukan pada SN dengan edema yang
nyata.
Infeksi
Penderita SN sangat
rentan terhadap infeksi, yang paling sering ialah selulitis dan peritonitis.Hal
ini disebabkan karena pengeluaran imunoglobulin G, protein faktor B dan D di
urin, disfungsi sel T, dan kondisi hipoproteinemia itu sendiri.Pemakaian
imunosupresif menambah risiko terjadinya infeksi.Pemeriksaan fisis untuk
mendeteksi adanya infeksi perlu dilakukan.Selulitis umumnya disebabkan oleh
kuman stafilokokus, sedang sepsis dapa SN sering disebabkan oleh kuman Gram
negatif.Peritonitis primer umumnya disebabkan oleh kuman Gram-negatif dan
Streptococcus pneumoniae sehingga perlu diterapi dengan penisilin parenteral
dikombinasikan dengan sefalosporin generasi ke-tiga, seperti sefotaksim atau
seftriakson selama 10-14 hari. Di Inggris, penderita SN dengan edema anasarka
dan asites masif diberikan antibiotik profilaksis berupa penisilin oral 125 mg
atau 250 mg, dua kali sehari sampai asites berkurang.
Hipertensi
Hipertensi pada SN
dapat ditemukan sejak awal pada 10-15% kasus, atau terjadi sebagai akibat efek
samping steroid.Pengobatan hipertensi pada SN dengan golongan inhibitor enzim
angiotensin konvertase, calcium channel blockers, atau beta adrenergic blockers.
Hipovolemia
Komplikasi hipovolemia
dapat terjadi sebagai akibat pemakaian diuretik yang tidak terkontrol, terutama
pada kasus yang disertai dengan sepsis, diare, dan muntah. Gejala dan tanda
hipovolemia ialah hipotensi, takikardia, akral dingin dan perfusi buruk,
peningkatan kadar urea dan asam urat dalam plasma. Pada beberapa anak memberi
keluhan nyeri abdomen.Hipovalemia diterapi dengan pemberian cairan fisiologis
dan plasma sebanyak 15-20 ml/kg dengan cepat, atau albumin 1 g/kg berat badan.
Tromboemboli
Risiko untuk mengalami
tromboemboli disebabkan oleh karena keadaan hiperkoagulabilitas. Selain
disebabkan oleh penurunan volume intravaskular, keadaan hiperkoagulabilitas ini
dikarenakan juga oleh peningkatan faktor pembekuan darah antara lain faktor V, VII,
VIII, X serta fibrinogen, dan dikarenakan oleh penurunan konsentrasi
antitrombin III yang keluar melalui urin. Risiko terjadinya tromboemboli akan
meningkat pada kadar albumin plasma < 2 g/dL, kadar fibrinogen > 6 g/dL,
atau kadar antitrombin III < 70%. Pada SN dengan risiko tinggi, pencegahan
komplikasi tromboemboli dapat dilakukan dengan pemberian asetosal dosis rendah
dan dipiridamol. Heparin hanya diberikan bila telah terhadi tromboemboli,
dengan dosis 50 U/kg intravena dan dilanjutkan dengan 100 U/kg tiap 4 jam
secara intravena.
Hiperlipidemia
Hiperlipidemia pada SN
meliputi peningkatan kolesterol, trigliserida, fosfolipid dan asam lemak.
Kolesterol hampir selalu ditemukan meningkat, namun kadar trigliserida,
fosfolipid tidak selalu meningkat. Peningkatan kadar kolesterol berbanding
terbalik dengan kadar albumin serum dan derajat proteinuria. Keadaan
hiperlipidemia ini disebabkan oleh karena penurunan tekanan onkotik plasma
sebagai akibat dari proteinuria merangsang hepar untuk melakukan sintesis lipid
dan lipoprotein, di samping itu katabolisme lipid pada SN juga menurun.
Hiperlipidemia pada SNSS biasanya bersifat sementara, kadar lipid kembali
normal pada keadaan remisi, sehingga pada keadaan ini cukup dengan pengurangan
diit lemak. Pengaruh hiperlipidemia terhadap morbiditas dan mortalitas akibat
kelainan kardiovaskuler pada anak penderita SN masih belum jelas.Manfaat
pemberian obat-obat penurun lipid seperti kolesteramin, derivat asam fibrat
atau inhibitor HMG-CoA reduktase (statin) masih diperdebatkan.
IX. PROGNOSIS
Sebelum era antibiotik,
infeksi merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada SN.Pengobatan SN
dan komplikasinya saat ini telah menurunkan morbiditas dan mortalitas yang
berhubungan dengan sindrom.Saat ini, prognosis pasien dengan SN bergantung pada
penyebabnya. Remisi sempurna dapat terjadi dengan atau tanpa pemberian
kortikosteroid.
Hanya sekitar 20 %
pasien dengan glomerulosklerosis fokal mengalami remisi proteinuria, 10 %
lainnya membaik namun tetap proteinuria. Banyak pasien yang mengalami frequent
relaps, menjadi dependen-steroid, atau resisten-steroid. Penyakit ginjal kronik
dapat muncul pada 25-30 % pasien dengan glomerulosklerosis fokal
segmental dalam 5 tahun dan 30-40 % muncul dalam 10 tahun.
Orang dewasa dengan
minimal-change nephropathymemiliki kemungkinan relaps yang sama dengan
anak-anak. Namun, prognosis jangka panjang pada fungsi ginjal sangat baik,
dengan resiko rendah untuk gagal ginjal.2Pemberian kortikosteroid memberi
remisi lengkap pada 67% kasus SN nefropati lesi minimal, remisi lengkap atau
parsialpada 50% SN nefropati membranosa dan 20%-40% pada glomerulosklerosis
fokal segmental.Perlu diperhatikan efek samping pemakaian kortikosteroid jangka
lama di antaranya nekrosis aseptik, katarak, osteoporosis, hipertensi, diabetes
mellitus.
Respon yang kurang
terhadap steroid dapat menandakan luaran yang kurang baik. Prognosis dapat
bertambah buruk disebabkan (1) peningkatan insidens gagal ginjal dan komplikasi
sekunder dari SN, termasuk episode trombotik dan infeksi, atau (2) kondisi
terkait pengobatan, seperti komplikasi infeksi dari pemberian imunosupressive.2Penderita
SN non relaps dan relaps jarang mempunyai prognosis yang baik, sedangkan
penderita relaps sering dan dependen steroid merupakan kasus sulit yang
mempunyai risiko besar untuk memperoleh efek samping steroid. SN resisten
steroid mempunyai prognosis yang paling buruk.
Pada SN sekunder,
prognosis tergantung pada penyakit primer yang menyertainya.Pada nefropati
diabetik, besarnya proteinuria berhubungan langsung tingkat
mortalitas.Biasanya, ada respon yang baik terhadap blockade angiotensin, dengan
penurunan proteinuria, dan level subnefrotik.Jarang terjadi remisi nyata.
Resiko penyakit kardiovaskular meningkat seiring penurunan fungsi ginjal,
beberapa pasienakan membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal
Pada amiloidosis
primer, prognosis tidak baik, bahkan dengan kemoterapi intensif. Pada
amiloidosis sekunder, remisi penyebab utama, seperti rheumatoid arthritis,
diikuti dengan remisi amiloidosis dan ini berhubungan dengan SN.
Selasa, 25 Oktober 2016
Penyakit Tularemia ( Francisella tularensis)
Definisi
Tularemia
Merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi
klinis yang sangat bervariasi tergantung kepada tempat masuknya bakteri dan
virulensi dari bakteri yang menginfeksi. Penyakit ini menyerang berbagai jenis
hewan termasuk domba.
Etiologi
Tularemia
disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis atau Pasteurella tularensis,
sejenis kokobasilus yang non motil, berbentuk kecil, gram negatif. Semua isolat
secara serologis homogen dibedakan satu sama lain secara epidemiologis dan
biokemis yaitu menjadi Jellison Type A (F. tularensis biovarian tularensis)
dengan LD50 pada kelinci lebih kecil dari 10 bakteria atau Jellison type B (F.
tularensis biovarian palaearctica) dengan LD50 pada kelinci lebih besar dari
107 bakteria. Didalam tinja yang kering bakteri ini dapat hidup selama
25-30hari.
Klasifikasi
Domain
: Bacteria
Phylum
: Proteobacteria
Class
:
Gamma Proteo Bacteria
Ordo
: Thiotrichales
Family
: Francisellaceae
Genus
: Francisella
Spesies
: Francisella tularensis
Morfologi
Francisella tularensis adalah bakteri Gram negatif (bakteri Gram negatif terdiri dari outermembran dengan peptidoglikan, tidak seperti bakteri Gram positif yang mempunyai dinding sel yang tebal dan tidak mempunyai outermembran. Kebanyakan bakteri Gram negatif bersifat patogen), dengan phili pada permukaan. Bakteri ini bersifat nonmotil, aerob, dan tidak berspora. Di alam baktri ini dapat bertahan lama pada temperatur rendah di air, tanah, dan bangkai hewan. Dalam penelitian laboratorium, Francisella tularensis berukuran 0,2 m dan tumbuh pada suhu 35-37°C.
Bakteri
Francisella tularensis
Ada
empat suspecies dari Francisella tularensis yang diketahui. Dua strain dari Francisella tularensis yang paling banyak dipelajari yaitu tipe A yang lebih
virulen (ditemukan di Amerika Utara) dan tipe B yang kurang virulen (subspecies
holartica, ditemukan di Eropa). Dua species lain adalah mediasiatica yang tidak virulen,
ditemukan di Asia Tengah, dan novicida yang tidak banyak diketahui. Francisella
tularensis mempunyai kromosom yang berbentuk bulat dan mempunyai 52 RNA yang terdiri dari 32% Guanin dan Sitosin, 79% gen fungsional. Kebanyakan
bakteri Francisella mempunyai ukuran dan bentuk yang sama. Mereka ditutupi oleh kapsul seperti lapisan dengan batas yang jelas. Keturunan yang
virulen seperti Francisella tularensis mempunyai kapsul yang tebal sementara yang tidak
virulen mempunyai kapsul yang tipis. Bakteri ini terdiri dari 4 tipe pili di permukaan
yang digunakan untuk menempel di jaringan inang, pembentukan biofilm, dan
pembentukan motil. Francisella tularensis juga terdiri dari siderophores yang tumbuh di
bawah besi.
Siderophores adalah molekul kecil yang dapat mengikat reseptor di membran
bakteri. Keistimewaan ini penting untuk bakteri karena replikasi intraseluler dari
Francisella tularensis tergantung pada besi, bahkan bakteri yang virulen adalah yang
tergantung pada besi.
Epidemiologi
Tularemia
tersebar hampir di semua bagian Amerika Utara dan di sebagian besar benua
Eropa, di bekas Uni Soviet, Cina dan Jepang. Di AS penyakit ini ditemukan
sepanjang tahun; insidensi penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada orang
dewasa dimusim dingin pada saat musim perburuan kelinci dan pada anak-anak
dimusim panas pada saat densitas vektor berupa kutu dan lalat pada
menjangan/kijang meningkat. Francisella tularensis biovarian tularensis
terbatas ditemukan hanya dibagian utara benua Amerika dan sering ditemukan pada
kelinci (jenis Cottontail, Jack dan Snowshoe), dan biasanya penularan terjadi
karena gigitan kutu binatang tersebut. Sedangkan Francisella tularensis
biovarian palaearctica sering ditemukan pada mamalia selain kelinci di bagian
utara benua Amerika; berbagai strain ditemukan di Elerasia pada binatang jenis
voles, muskrat dan tikus air. Sedangkan di Jepang ditemukan pada kelinci.
Reservoir
Berbagai
jenis binatang liar seperti kelinci, hares, voles, muskrats, beavers dan
beberapa jenis binatang domestik dapat berperan sebagai reservoir; begitu juga berbagai
jenis kutu dapat berperan sebagai reservoir, sebagai tambahan telah ditemukan siklus
penularan dari rodentia – nyamuk untuk F. tularensis biovarian palaearctica didaerah
Skandinavia, Baltic dan Rusia.
Cara
penularan
Berbagai
cara penularan telah diketahui antara lain melalui gigitan binatang berkaki beruas (artropoda) seperti kutu Dermacentor andersoni, kutu anjing D.
variabilis, Anblyomma americanum (the lonestar stick); dan walaupun jarang terjadi, lalat
Chrysops discalis pada kijang/menjangan dapat juga menularkan penyakit ini. Di Swedia
nyamuk Aedes cinerius diketahui dapat menularkan penyakit ini melalui inokulasi kulit,
melalui mukosa konjungtiva dan mukosa orofaring yang terpajan dengan air yang
terkontaminasi.
Penularan dapat juga terjadi karena terpajan dengan darah atau jaringan binatang
yang terinfeksi (pada waktu menguliti binatang, memotong daging atau pada waktu
melakukan nekropsi); mengkonsumsi daging atau jaringan binatang yang terinfeksi yang
tidak dimasak dengan sempurna; minum air yang terkontaminasi; inhalasi debu yang terkontaminasi atau inhalasi partikel dari tumpukan rumput/jerami kering dan
padi-padian yang terkontaminasi. Jarang sekali penularan terjadi melalui gigitan coyote
(sejenis rubah), tupai, musang, babi hutan, kucing atau anjing yang mulutnya tercemar
karena diduga memakan binatang yang terinfeksi. Penularan juga jarang terjadi karena
bulu dan cacar binatang. Jika penularan terjadi karena kecelakaan dilaboratorium
biasanya berupa pneumonia primer dn tularemia tifoidal.
Masa
Inkubasi
Masa
inkubasi sangat bergantung pada virulensi daripada mikroorganisme dan tergantung pada ukuran inokulum. Biasanya berkisar antara 1
– 14 hari, rata-rata 3 – 5 hari.
Masa
Penularan
Tidak
ditularkan langsung dari orang ke orang. Pada penderita yang tidak diobati mirkoorganisme penyebab penyakit ditemukan didalam darah selama 2 minggu pertama infeksi, dan ditemukan didalam lesi selama satu bulan bahkan
terkadang lebih lama. Lalat mengandung bakteri selama 14 hari dan kutu selama hidup
mereka (sekitar 2 tahun). Daging kelinci yang dibekukan pada suhu –150C (50F) tetap
infektif selama 3 tahun.
Gejala
Klinis
Gejala
klinis lebih sering muncul sebagai ulcus yang indolen ditempat masuknya bakteri disertai dengan pembengkakan kelenjar limfe
disekitarnya (tipe ulseroglanduler). Manifestasi lain dapat berupa infeksi tanpa disertai
timbulnya ulcus, hanya terjadi pembengkakan satu atau beberapa kelenjar limfe disertai
dengan rasa sakit. Pembengkakan
kelenjar limfe ini mengalami supurasi (tipe glanduler). Tertelannya mikroorganisme karena mengkonsumsi makanan dan minuman yang tercemar dapat menimbulkan faringitis dengan rasa sakit (dengan atau tanpa terjadi ulserasi),
sakit perut, diare dan muntah (tipe orofaringeal). Jika mikroorganisme masuk kedalam tubuh
melalui
inhalasi dapat terjadi pneumonia atau sindroma septikemi primer, jika tidak
segera diberi pengobatan yang tepat, dapat menimbulkan kematian dengan CFR sekitar 30 – 60%
(tipe tifoidal). Mikroorganisme yang masuk melalui darah biasanya menimbulkan
penyakit yang terlokalisir pada paru dan ruangan pleura (tipe pleuropulmoner). Walaupun
sangat jarang sekali, mikroorganisme dapat masuk melalui Sacus conjunctivus dan
menimbulkan konjungtivitis purulenta disertai dengan pembengkakan kelenjar limfe
disekitarnya (tipe okuloglanduler). Dari semua tipe infeksi diatas dapat terjadi komplikasi
pneumonia yang memerlukan pengenalan dan pengobatan secara dini untuk mencegah kematian.
Ada
dua biovarians dengan patogenisitas yang berbeda yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia. Organisme yang disebut dengan nama Jellison type A adalah jenis
yang lebih virulen, jika tidak diobati dengan benar dapat menimbulkan kematian
dengan CFR berkisar antara 5 – 15% terutama disebabkan oleh penyakit dengan tipe tifoidal
atau dengan tipe pleuropulmoner. Dengan pengobatan menggunakan antibiotika yang
tepat CFR dapat diturunkan secara bermakna. Biovarian dengan nama Jellison type B, virulensinya lebih rendah walaupun tidak diobati, CFR-nya rendah. Secara klinis tularemia sulit dibedakan dengan pes dan dengan penyakit lain seperti infeksi
oleh Stafilokokus dan Streptokokus, Cat Scratch fever, Sporotrichosis oleh karena
semua penyakit yang disebutkan diatas dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar limfe
yang bubonik dan pneumonia berat.
Diagnosis
Diagnosis
biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan diagnosa pasti dibuat karena adanya kenaikan titer antibodi spesifik yang
muncul pada minggu kedua sakit. Terjadi reaksi silang dengan infeksi spesies Brucella.
Diagnosa cepat dibuat melalui pemeriksaan spesimen yang diambil dari eksudat ulcus dan
aspirat dari kelenjar limfe dengan tes FA. Biopsi
yang dilakukan untuk tujuan diagnostik harus dilindungi dengan pemberian antibiotik yang tepat karena tindakan biopsi dapat menimbulkan septikemi.
Bakteri penyebab infeksi dapat diisolasi melalui kultur pada media khusus seperti
dengan media cysteine glucose blood agar atau dengan melakukan inokulasi binatang percobaan
dengan bahan yang diambil dari lesi, darah dan sputum. Untuk menentukan biovarians
dilakukan dengan pemeriksaan reaksi kimiawi. Tipe A memfermentasikan gliserol dan merubah citrulline menjadi ornithine. Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan dengan
sangat hati-hati oleh karena dapat terjadi penularan bahan infeksius melalui udara.
Oleh karena itu identifikasi dengan menggunakan media kultur hanya dilakukan dilaboratorium rujukan yang sudah sangat berpengalaman dengan fasilitas keamanan yang memadai. Umumnya diagnosis ditegakkan hanya dengan pemeriksaan serologis.
Penatalaksanaan
Obat
pilihan adalah streptomisin atau gentamisin, diberikan selama 7 – 14 hari; sedangkan tetrasiklin dan kloramfenikol bersifat
bakteriostatik jika diberikan kurang dari 14 hari, relaps lebih sering terjadi dibandingkan pengobatan dengan menggunakan streptomisin. Namun telah ditemukan mikroorganisme virulen yang resisten terhadap streptomisin. Tindakan insisi, biopsi, aspirasi yang dilakukan untuk mengambil sampel pada kelenjar limfe yang terinfeksi dapat menyebarkan infeksi. Tindakan ini harus dilindungi dengan antibiotika yang tepat.
Pencegahan
- Berikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari diri terhadap gigitan kutu, lalat dan nyamuk. Hindari minum air, mandi atau bekerja diperaiaran yang tidak ditangani dengan baik dimana didaerah tersebut angka infeksi pada binatang liar sangat tinggi.
- Pakailah sarung tangan pada saat menguliti binatang terutama kelinci. Masaklah daging kelinci liar atau binatang rodensia sebelum dikonsumsi.
- Berlakukan larangan pengapalan antar pulau terhadap hewan atau daging hewan yang terinfeksi.
- Vaksinasi intradermal dengan skarifikasi menggunakan vaksin jenis “Live attenuated” digunakan secara luas dibekas Uni Soviet dan secara terbatas digunakan dikalangan pekerja dengan risiko penularan di AS. Vaksin “Live anttenuated” yang dulu pernah digunakan untuk tujuan penelitian
- pada petugas laboratorium di AS saat ini tidak lagi tersedia.
- Pakailah masker, pelindung mata, sarung tangan dan jas laboratorium (Personal Protection Equipment) dan pergunakan kabinet dengan tekanan negatif pada saat bekerja dengan kultur F. tularensis.
Prognosis
Jika
diobati, sebagian besar penderita bisa diselamatkan.
Sekitar 6% penderita yang tidak diobati akhirnya meninggal. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi yang tidak terkontrol, pneumonia, meningitis (infeksi selaput otak) atau peritonitis (infeksi selaput rongga perut).
Jarang terjadi kekambuhan, tetapi jika pengobatannya tidak adekuat, maka bisa terjadi kekambuhan.
Penderita tularemia nantinya akan membentuk kekebalan terhadap infeksi ini.
Sekitar 6% penderita yang tidak diobati akhirnya meninggal. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi yang tidak terkontrol, pneumonia, meningitis (infeksi selaput otak) atau peritonitis (infeksi selaput rongga perut).
Jarang terjadi kekambuhan, tetapi jika pengobatannya tidak adekuat, maka bisa terjadi kekambuhan.
Penderita tularemia nantinya akan membentuk kekebalan terhadap infeksi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)




